Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

natal

PERSEMBAHAN NATAL

malam ini
adalah malamMu, Bapa
malam yang penuh sukacita
malam dimana setiap orang
terkesan begitu istimewa

malam ini
adalah malamMu, Bapa
lilin lilin bercahaya
bintang-bintang gemerlapan
semua tersenyum semua bahagia

malam ini
adalah malamMu, Bapa
orang-orang datang padaMu
bersama ayah dan ibu
dengan pakaian baru
mobil mewah dan angan-angan melimpah ruah

namun aku ya, Tuhanku
apa yang dapat kubawa padaMu
sebagai persmbahan yang layak untukMu
jangankan mobil mewah dan pakaian baru
sedang ayah dan ibu pun
telah lama tak ada padaku

malam ini
adalah malamMu, Bapa
apa yang dapat kupersembahkan padaMu
selain sepotong hati yang telah kering
dan jiwa yang telah hancur oleh dosa-dosa

malam ini
adalah malamMu, Bapa
kubawa tubuh dan jiwaku
sebagai persembahan bagiMu




LILIN-LILIN CILIK

lilin-lilin cilik
sunarna padhangmu
nadyan cilik wujudmu
uga ciyut tebaning cahyamu
aja wedi
aja cilik ing ati
nadyan wengine nggegirisi
aja semaya
leladia nadyan isih tumaruna
jumagaa lan ndedongaa
dimen tetep santosa
anggonen sabdaning gusti
minangka tetameng gamaning aji
lestaria nggonmu bekti
dadi pepadhanging wengi
temah kang peteng dadi weruh
kang ra tepang dadi wanuh
yen sang Kristus wus rawuh
nuweni jagad
nuweni ati kang kesrakat
nuweni jiwa kang kalimput dosa
dimen kabeh padha antuka raharja
raga jiwa lan sukma
ing jagad lan ing swarga
lilin-lilin cilik
sorotna padhangmu
nganti sadawaning uripmu

Rabu, 25 November 2009

sajak sajak 2009

NYANYIAN ALUN

demikianlah alun demi alun
di laut keluasan
berduyun beruntun berkelanjutan
mengawali atau mengakhiri
atau sekedar mengalir
di libasan kepastian
mengusung rindu yang lalu
atau harapan yang tak kunjung tiba
dalam biru catatan
di lembar kertas
yang makin ungu
demikianlah alun demi alun
bernyanyi di kesenyapan
sendiri
mengisi sebagian kehidupan
dengan ketelanjangan dan keikhlasan
24 November

SAJAK UNTUK IBU

sembilan bulan itu entah apa kulakukan
mungkin cuma tidur dan mengeliat
atau sudah bisakah aku menangis barangkali?
tetapi apa yang menjadi alasan
bahwa aku tidak berbuat sesuatu
hingga saat kelahiran

aku juga tidak tahu apa-apa
hingga sekian tahun ke depan
tahun-tahun itu gelap dan sama sekali
tak terjangkau olehku
bahkan aku tak mampu mengenali wajahku sendiri
foto foto itu kaukatakan aku
tetapi aku dingin-dingin saja
karena sebenarnya
aku tidak mengerti apa-apa tentang diriku
hanya karena kau saja aku mempercayaimu

kemudian aku mulai dapat mengingat
dalam samar dalam bayang yang kabur
dan penuh tanda tanya
wajah yang membeku, orang-orang yang sedih
dan kau sendiri menangis didekatnya sambil mendekapku
siapa dia? kenapa kau menangis demikian tersedu?
berulang kali kau menyebut sebuah nama, juga namaku
dalam sebuah hubungan yang patah
tetapi aku juga tak tahu apa-apa
hingga suatu ketika kauceritakan dia ayahku
dan aku mengangguk
hanya mengangguk
tanpa rasa gembira
karena kau yang mengatakannya

sejak saat itu kuperoleh sebuah kepastian
untuk pertama kalinya aku mengerti kebenaran
aku lahir dari sebuah pasangan cinta kasih
cukup formal dan biasa saja
dan hanya karna sebuah kepastian saja
seolah kita istimewa, ya
bukankah itu seolah istimewa
sebuah rumah,
seorang ibu,
seorang anak
dan tanpa ayah?

rumah kita kecil
cukup mewakili pemiliknya
pertanyaan tidak harus panjang lebar
tidak harus jauh-jauh atau dalam-dalam
kemiskinan tidak kurang pertanyaan
dan jawabannya tidak perlu impor
sepertinya seolah istimewa
padahal sederhana saja
kau terlahir sebagai anak tunggal kakekku
dan ayah pun tanpa saudara
hanya satu yang menurutku kekayaan:
kau mewariskan keikhlasan

kau tahu bukan?
aku tidak sakit saat teman-temanku memakan jajan
aku bisa tenang dan cukup senang
dalam banyak kekecewaan
yang secara nyata memang tidak mungkin kuperoleh
aku cukup mampu mengarahkan pikiran dan harapanku
kepada hal-hal yang secara nyata belum dapat ku lihat hasilnya
sungguh itu membuatku segar walau nanti dikecewakan lagi
aku berangsur menjadi tidak pengecut dan penakut
bahkan rasanya semakin sedia saja
walau untuk apa pun
dan terakhir
adalah saat aku harus dapat merelakanmu
pergilah dengan tenang
sebab di samping pasti
aku tak mau ikut kau sekarang
kau pun ingin aku jadi seorang laki-laki, bukan?

24 November 2009


KALIMAT AKTIV DAN PASIV



Sejak sekolah dasar dulu
guruku suka memberi contoh
membuat kalimat aktiv
Ali memukul anjing
dengan pasivnya
anjing dipukul Ali
tanpa penjelasan memadai
mengapa anjing mesti dipukuli



lepas dari konotasi negativ
anjing sebagai gambaran jahat di masyarakat
aku dan teman-temanku
segera saja suka memukul anjing tetangga
meski tahu anjing itu ada harganya
dan sengaja dibeli sebagai penjaga
serta tak pernah mencuri ikan atau berbuat kesalahan
hingga karnanya pantas menerima pukulan



kadang-kadang aku berfikir
seandainya pasiv dari kalimat tersebut bisa berbunyi
anjing memukul Ali
maka pasti
hal itu
akan tidak mungkin dan lucu
tidak mungkin
karna jelas melanggar konvensi
sedang lucunya
anjing...kan tidak punya tangan untk memukul?
menggigit memang bisa
kalau digoda
tapi kan bukan kalimat aktiv?



kenyataan yang sering kita jumpai adalah
anjing atau lainnya dipukul
justru bukan dari segi aktivnya melainkan
dari segi pasivnya
pada hal jelas
tak mungkin membuat pasiv dari kalimat aktiv di atas
hanya dengan membalikkannya begitu saja
tanpa menetapkan pelaku dan sasarannya
paling-paling
yang mungkin bisa terjadi
dan bisa diterima di kalangan para ahli bahasa
adalah
anjing menggigit Ali
tapi
apakah itu bukan tragedi yang menyedihkan sekali
pasti
hal itu jangan sampai terjadi
lagi pula kan kasihan Ali
ia bisa sakit hati amat sekali
hingga
anjing bisa dibunuh hingga mati sama sekali



akan tetapi
sebaiknya memang
tak usah saja membuat kalimat aktiv
yang seperti itu bunyinya
biar saja pasivnya
tetap berbunyi seperti sediakala



jangan bikin jendela baru
dari pintu yang telah dipaku
jangan ciptakan kekeliruan-kekeliruan
kian bermacam-macam
jangan sentuh kerawanan-kerawanan
kian menggelikan
jangan ungkapkan kebenaran-kebenaran
kian menyakitkan
itu rawan
itu belati di hati
rawan

ya Tuhan pencipta langit dan bumi
bukankah dulu kami
Kauberi tulang rawan
supaya persendian bisa enak digerakkan?
ampunkan kami yang mudah rawan
bantulah kami
menuju
kedewasaan



HILANG

hilang tanah
hilang akanr
hilang pohon
sebuah hutan yang hilang

hilang wujud
hilang bayangan
hilang pesona
dunia yang hilang

hilang kata
hilang makna
hilang gagasan
dunia yang diciptakan
gagasan yang hilang

hilang
terhilang
menghilang
dihilangkan
ke mana hilang ditemukan?

ditemukan hilang
masa depan
sebuah dunia
yang diciptakan gagasan
hewan-hewan hutan
yang hilang


AIR DARI SEBUAH CAWAN

mari
mari minum segala
yang karnanya kita mengusung air mata
meski
selamanya
tak akan ada henti-hentinya mendera kita
mari
dan jangan lagi berkata pahit
jangan pula
tertumpah di tanah basah
hingga rengat-rengat mengekalkan dukanya
mari
mari minum segala
yang karnanya
kita terbatuk-batuk hingga tua
dan jangan lagi benci
untuk tak berkata
itu tidak adil
karna kita

tak pernah sempurna mengerti segala
karna itu
mari
dan jangan lagi tawar hati
kita minum air
kita minum luka
kita minum cawan
dari darah dan bilur-bilur-Nya
yang sempurna
kita minum pohon-pohon celaka
hutan-hutan khianat
dan semak-semak benci
kita minum dosa
kita minum murka
kita minum segala
dan jangan lagi tak malu
untuk berkata
kamilah yang berhak atas kalian
karna
kita sendiri hamba yang kelewat nista
dari seorang Tuan Yang Maha Adil dan Bijaksana


KALI CODE
(in memoriam Rama Mangun)

engkau tahu
di antara riak sunyi dan gelegak risau
yang menggebalau itu
kelak akan mengepak sayap-sayap merpati
dan menelorkan mimpi-mimpi putihmu
engkau pun tahu
bahwa di antara sampah-sampah busuk
yang berpautan rekat
pada akar-akar pohon kesepian itu
kelak akan meneteskan embun bening


penyegar pagi kehidupan
ya, Rama
aku pernah mendengarnya
bukan hari ini
tetapi esok nanti
ketika matahari
tak lagi hanya terik
saat bulan
tak lagi hanya teman malam
berselubung hitam di tengah pesta posa kegelapan
di saat semua
akan terbuka di wajah langit yang sempurna
di saat gemuruh dusta
dan gelombang kepura-puraan
tak lagi ada sengatnya
tersibak halaman demi halaman
kata demi kata

meluncur dengan wibawa dan bahasa yang sempurna
bukankah
burung-burung mungil itu adalah esok
yang telah kaulahirkan kembali
dari malam-malamnya yang sunyi?
Air kali masih mengalir,
Rama
mesti sendiri
dan teramat sangat sunyi
Engkau di sana
aku di sini
di tepian sunyi khusukmu
berlelehan cintamu
mengunjungi kehidupan
dalam cahaya putih keabadian


PENGAIL

moyangku seorang pengail
ayahku meniru jejak moyangku
dan aku pun suka mengail
di perbatasan desaku yang terpencil
ikannya kecil-kecil

saudaraku juga suka mengail
mereka mengail di mana suka
di Sumatera, Kalimantan,Bali dan lain-lain
dan yang hingga kini masih gencar dikaili adalah
Maluku, Sulawesi, dan Irja
tapi
timtim tidak lagi
kini sudah jadi Lorosae
alias Timor Leste



LENGKING SUNYI KEMARAU

rumput-rumput kering
daun-daun menguning
lengking sunyi kemarau
menikam tanahku dengan suara parau

kembali terserak
citra bumi yang retak
ranting-ranting patah
berebut nyenyak
sedang hujanku
adalah air mata pahit
yang semakin membuatnya sakit

kemarau
entah berapa hujan
mesti diserahterimakan rela
jika kata-kata
tak lagi membahasakan
kehidupan semesta


DI PENGHUJUNG DUA SATU

gerimis dingin
di lorong itu
menghitung satu-satu
suara gemeletuk sepatu
dalam gugusan waktu
rangkaian hidup beradu batu
membentang jarak
antara kefanaan dan kekekalan
angan-angan dan masa depan
menyusup
gema yang bisu
warna yang kelabu
nada yang sendu
namun langkah
tetap terayun
meski gerimis kian melantun
dan
jejak pun berlalu
satu demi satu
di acara
dan
kebisingan
suara-suara
gemeletuk sepatu


RAMALAN CUACA
DI BEBERAPA KOTA BESAR DUNIA
(suplement TVRI di masa lalu)

London cerah
dengan suhu udara cukup
dan desau angin semayup
Paris dan Amsterdam berawan
Sedangkan Tel Aviv dan Ramalah gerah
tapi
Moskow, Peking, Pyongyang
biasa-biasa saja
artinya
suhu udara dan arah angin sama
sedangkan
Geneva,Hongkong dan Las Vegas
Suhu dan arah angin
Bergantung besar kecilnya taruhan
Kairo
lebih-lebih Arab Saudi
sangat cerah
dengan sumber devisa
yang tak tersaingi
sedangkan
New York dan Washington
berkabut tebal
Bagdad, Teheran, Kabul dan Karachi
tak pasti
hujan dan terik
sering terjadi secara mendadak
di luar jangkauan
pesawat detector iklim dan cuaca
sedangkan Darwin
terkejut berat dengan kabut kiriman
yang memaksanya meningkatkan kewaspadaan
tetapi
Tokyo cerah
dan
Kuala Lumpur makmur

terlebih
Bandar Seri Begawan
dan
Bangkok nampak cerah
dengan cahaya matahari paginya
sedangkan Jakarta?
duh
Jakarta tak terbaca
listrik sialan
tiba-tiba saja padam
sebelum Pemberita sempat berkata apa-apa

dan sebab itu
gelap tiviku gelap rumahku


...........

MENARA 2

JALAN LENGANG


jalan ini
kenapa lengang begini
bersimpang-simpang jiwamu
berlalu-lalang
tak pulang-pulang



adakah
karna sempit
cuma batuan dan duri
maka
engkau pun
berpaling menyembunyi



tak sekarang
hidup ini kau nikmati
juga
jalan ini terlampau meletihkan
bagimu alamat
terlampau jauh kau dapat

sedangkan di sini
aku berjalan seorang diri
menyusur jejak-MU
yang diguyur hujan dan panas
tiap hari


SAJAK ORANG-ORANG SEMBUNYI

Orang-orang
mengubah jalan
dan
mencipta arahnya sendiri
telah dikuburnya alamat yang satu
demi gema segala yang tubuh
dijualnya hidup menyeteru


dalam pesta raya mengubur jejak
wajah-wajah putih bedak
berkelebatan
kelelawar membelah semak-semak
membentuk tanah retak
pada kabut napsu
beratap gelas-gelas beracun


serba gelap-gelap itu juga
orang-orang menggalang istananya
namun
jejaknya yang senantiasa haus
meneteskan liur lalat
dan
bau busuk bangkai
menyeruak dari bibir nuraninya
yang penuh sindat


sajak ini
pun kutulis dalam kesilauan
nyaris buta sepenuhnya
hanya oleh sinarNYA
membuka kelopak hati
kukenali bayang-bayang mereka sembunyi
berpapasan denganku
di jalan ini
bak kelelawar melintasi matahari



TONGKAT

tiba-tiba
engkau datang
selagi aku memangku anak istri
lenganmu
menjinjing sekeranjang mimpi
dalam nafas aneh
berbau minyak wangi
kau tanyakan padaku
seperti bisik angin
di mana
harus kutaburkan bunga
untuk makam seorang bekas penyair?

kutunjukkan padamu
sebuah tongkat
kukatakan pula bahwa
sudut itu adalah
tempat pilihannya selamat
tapi
kau tak sependapat
katamu
bukan di situ
kubur yang tepat

lalu
kataku
jika itulah maumu
tabur saja bungamu ke udara
barangkali
angin akan membawa ke alamatnya
tapi
kau pun menolaknya
bukan
bukan di sana
di sinilah tempatnya
di tanah pijak
yang tak mungkin dielak nurani


aku terharu
kupandangi tongkat
tersandar membeku
mungkinkah akan tumbuh semimu?
bertahun
menyudut sunyi kamarku
hanya serentetan bunyi yang jauh
membisik sebentar
dan

tangis anakku pun
membuatnya pudar


SERAUT WAJAH PENUH LUKA

seraut wajah
menikam dada
penuh goresan luka
dan sisa nanar tak terbaca


wajah siapakah ini
terbius sihir tivi
dimakan promosi-promosi?

lewat pancaran bulan
wajah itu kesepian
ada serbuk besi
dan
pecahan-pecahan kaca
ada bekas kemabokan
dan
sidik jari pemerkosaan

o
wajah itu sayu
beku
tanpa bahasa itu
kering
tanpa air susu
wajah itu
tak ada yang mau mengaku
atau
inikah
wajah anak-anakmu?

=============



SEBUAH KATA HILANG

sebuah kata hilang
ataukah
menjilma seorang anak manis?
tetapi
sejak kapan
terkunci kekosongan itu?
begitu mendadak
sunyinya memaku hasratku
pernahkah
melintas di benakmu
seseorang
akan bertanya-tanya sendirian
setelah berkali
mengetuk daun pintu
lalu
ditinggalkannya impian
sebelum
kemudian beringsut pergi
mungkin
esok akan terbuka kunci
dan
terulang kembali
acara minum kopi

sebuah kata hilang
dan
kudengar berita sumbang
di bulan januari
badai apa gerangan mengguncang
aku masih menggigil
di ruang tunggu rs elizabeth semarang
saat desau angin itu
menghamburkan bulu-bulu hitam

aku memungutnya
sebagai penawar sepi malam
lalu
handry dalam kepadatan acara
masih saja bicara dengan kelembutannya
tak apa
hanya desiran angin biasa
wahai
benarkah hanya sebuah desiran angin biasa?

kucari sebuah kata yang hilang
di bulustalan
namun sepi
daun pintu pun terkunci
atau
benarkah kini
telah menjilma
seorang mungil yang manis?

ayolah kawan
puisi-puisi berdesingan
di mana penamu
di mana pelurumu
atau
sebagai singa tua
hilang semangat menjelajah rimba?

sebuah kata hilang
kucari
di bulustalan
namun
sunyi lengang
dan
kau pun hilang
tersihir manis sarang



SISA HUJAN

akan bergema
di relung hatimu
saat-saat
yang melantun sendu itu
seolah
irama mencari lagu
pada ruang waktu
pernah bertemu
akan bergema
seirama tetes di beranda
menayang warna duka
di ruang silam
yang
tak putus merindu
bayang rembulan
dan
meski kan terkecoh
di langit kelam
akan
masih terus berjaga
sampai lama
meski
tetes-tets
tlah hilang suara

============




MATAHARI TELAH SILAM

tak terbilang lagi
betapa
rumput-rumput
telah melipat daun-daunnya
yang kering
tak juga akan terkenang
letih perjalanan sehari
yang kencang angin
tak pernah terhapuskan
sepi
yang dalam

semboja tua
telah menutup usia
sejak digugurkannya daun
yang penghabisan
di ujung angin itu
tinggallah tatap
yang sia-sia
di batas senja
mulai terseduh
luka membaka

yang tertinggal
siapa melewatinya?
matahari telah silam
di beranda
adakah
kita lewat di jalan-Nya?

=============


PADA SEBUAH SIMPANG

mobil-mobil
berlarian entah ke mana
di simpang itu
seolah
semua harus berkata
cukuplah sampai di sini
tapi
mulut demikian katup
di situ
terbaca dalam huruf-huruf tua
perjalanan anak-anak adam
yang tak lagi seputih leluhurnya
mencari dan menyua
bayang-bayang kelam
dari dunia kebimbangan

hentikan
hentikanlah di sini
bisik seseorang
seperti hembusan angin
bercampur deru mesin
dan
cericit roda
di atas aspal hitam
mengusik keheningan
sebuah kolam
plung
menyebar ke tepian
mengulur rasa panjang-panjang
menyelam fikir dalam-dalam
betapa
perjalanan
telah berlalu
cukup jauh
ke alamat-Nya

==============



SAJAK SEUSAI HUJAN

ada luka
di pelupuk mata
tersembunyi
di balik senyum tipismu

ada jendela
terbuka untuk segala
menayangkan warna duka
ke langit biru yang terbuka

kenanglah
pada masanya kan tiba
waktu tak terduga
dan
esok menjemputmu
bersama kicau burung
di udara

berikan air matamu
semampu tangismu
sungai yang keruh
ke laut jua arahnya



KESAKSIAN RUMPUT

tanah menangis
jauh dari firdous
dari mimpi keringat dan humus
menelantarkan putih melati
yang
tumbuh tandus

tanah penuh darah
menyimpan luka-luka membusuk
baunya menguap ke langit
mencipta kabut hitam
di jalan-jalan tak berlampu

Tuhan
aku merekamnya
di kesunyian hari-hari
tanpa mawar tanpa melati
sungguh
telah sehitam ini tanah
dicemari
racun limbah
dunia materi



KUK

kuk
adalah warisan
sejak
bagimu tergelar kehidupan
kuk
adalah cermin pecah-belah
yang
mengekormu ke segala arah laksana
bagian tak terpisah
kuk
yang mengental
tak tau lagi akan sengal
menjadikan
dirimu makin kenal



SAJAK UNTUK ANAK

kamu lahir
saat ketertiban menjadi semacam jaksa
anakku
ayah sendiri tak tahu
keadaan akan berubah secepat itu
maka kudidik kau
sebagaimana dulu
ayah dididik seperti itu
tak boleh ini tak boleh itu
termasuk tak boleh tahu
mengapa harus begitu
satu-satunya yang boleh
yaitu yang diharuskan dilakukan adalah
meniru
ya
meniru
dan
ayah seratus nilainya
untuk hal-hal seperti itu

saat itu
semua orang
memang harus bisa seperti ayahmu
artinya
harus bisa bernilai seratus
dalam hal meniru
sebab
nilai lima puluh
sama artinya dengan tidak setia
dan itu sangat berbahaya
anakku
ijazah bisa tak laku
di jalan raya
terantuk batu
kerjaan tetap bisa lenedap
dan
yang lebih mengerikan lagi adalah
ah, sudahlah
anakku
asal engkau tahu saja
hal itu sangat berbahaya
di jaman ayahmu

jadi
itulah sebabnya
kenapa dulu
ayah mendidikmu
seperti dulu ayah juga dididik seperti itu

maka janganlah terburu-buru
menuduh ayah tak jujur mendidikmu
karna
di samping jamannya memang begitu
ayah sendiri juga tak ingin
engkau sengsara
hanya karna tak pandai dalam hal meniru

lalu
kalau kini keadaan telah berubah
mungkin itu mujizat atau berkat bagimu
seperti ayah diam-diam juga berharap begitu
perubahan
yang tak sekedar beda dengan yang dulu
melainkan
yang benar-benar mampu mengangkat
derajat hidup ini
setingkat lebih maju
di mana manusia
tak lagi diperhamba
oleh aturan ini itu
terlebih
tak jadi korban
dari aturan-aturan
yang memang tidak perlu

manusia
anakku
memang harus menjadi kunci
dari segala-galanya
karna
sekali hal itu dilupa
maka sia-sialah perubahan
betapapun baiknya
terlebih lagi karna
kamu bangsa Indonesia
yang satu kata saja
sudah punya makna berbeda-beda
nah

anakku tercinta
jika benar
di jaman yang telah berubah ini untungmu ada
pesanku jangan sampai engkau lupa
Indonesia jangan kaubalik untuk manusia
sungguh
itu sangat berbahaya
di samping pasti
akan dikutuk yang Maha Kuasa

mengapa
karna sejak semula
manusia tidak dicipta
untuk menjadi korban siapa saja
termasuk oleh
ambisi-ambisinya

betapapun tinggi harus kita hargai
Indonesia
tak luput dari sebuah pengertian
bernama ambisi
yang jika tak kita waspadai
akan bisa mengubur
Indonesia dari hak hidupnya yang azasi
sebab itu
bersihkanlah Indonesia
dari ambisi-ambisi
dan serentak dengan itu pula
bukalah mata hati
agar tak salah lagi
kau mengenali
negeri indah bak taman seribu bidadari ini

anakku yang bijak cendekia
betapa bangga ayah punya putera
berapa pulau
kau hitung di Nusantara
berapa suku tinggal dan berbahagia di dalamnya
berapa adat
bahasa dan budaya
serta agama yang dianutnya
adakah
tempat lain di bumi ini
sekaya negeri tercinta ini

anakku yang berhati mulia
ayah tanya padamu
saat geger terjadi di mana-mana
engkau sendiri di mana dan sedang apa
masih kau ingat pesan ayah bukan
tekun belajar
beribadah dengan benar
rendah hati
jujur
sopan
tak gentar hadapi tantangan
tegar dalam mengejar cita-cita
ya ya
ayah percaya
konsentrasimu tak akan mudah goyah
oleh suara dan rupa apa saja

ayah juga percaya
kau tak akan gampang
diajak ke mana-mana
apa lagi yang tak kau tahu tujuannya

o ya
anakku yang saleh beragama
syukurlah
kau telah tahu juga
bahwa agama itu laksana sebuah pusaka
yang tak perlu ditunjuk-tunjukkan
wujud lahirnya
supaya
tak hilang tuahnya
juga
tak membuat orang lain tak sejahtera
sungguh
betapa bangga
ayah melihatmu telah dewasa
ayah berdoa
agar selamanya
hal itu dapat kau jaga
terutama
agar tak seperti Kebo Ijo
yang akhirnya
tertikam juga oleh pusaka pinjamannya

anakku yang cinta bangsa
ayah juga bangga
kau punya jiwa seni dan rasa estetika
itu akan perdalam
penyelaman iman agamamu
di samping
memperhalus rasa kemanusiaan
sebagai ciptaan mulia
jika kau dapat mencapainya
mata dunia
tak akan berhenti berkedip
ke Indonesia

ayah juga senang kau suka berolah raga
itu tandanya kau tahu kesehatan harus dijaga
memang
perlu juga jadi juara
tapi tujuan berolah raga masih banyak lagi lainnya
wah wah
tahu juga filsafat rupanya
itu bagus juga

anakku yang sungguh-sungguh membuat bangga
betapa ingin ayah dekat denganmu senantiasa
berbagi rasa
berbagi cita-cita
terutama
berbagi gagasan
tentang Indonesia tercinta
walau kadang
terpaksa ayah tersenyum ganda
kau tahu mengapa?
pertama
karna
betapa pun lucu
engkau anakku adanya
kedua
karna
sebenarnya ayah kawatir
jangan-jangan
kau hanya akan menjadi seorang idealis
yang mudah terjebak puas
hanya oleh mimpi-mimpi belaka
tapi tak apa
karna justru yang sepertimu itulah
yang punya alasan
berdiri tegak di alam nyata
ya
jangan malu kalau dihina

selain itu
anakku
betapa ingin
ayah memilikimu
tapi
ayah sadar
tak mungkin itu
anak-anak
adalah milik Sang Maha
ia ada padamu
tapi bukan milikmu
kata Gibran yang kesohor itu
dan ayah pun tahu
kau
adalah milikmu sendiri
milik Pencipta hidupmu
milik bangsamu
karna itu
pergilah anakku
dia menunggumu
rindu pengabdianmu
jangan takut
majulah
maju
doa ayah menyertaimu

berjuanglah
untuk yang satu itu
utamakan di atas segala kecintaan pribadimu
dan jangan lupa
jaga baik-baik pusaka pinjamanmu
jangan seperti Kebo Ijo yang bodoh itu
kelak
jika ada senggangmu
jenguklah ayah
di tempat lahirmu
nyanyikan Desaku yang Permai
sebelum kau ketuk pintu
agar tak lupa
ayah mengenalimu

oooo000oooo



LANGIT BIRU DI FAJAR BARU

bila tiba waktunya
berarak alun ke tepi
pelepah-pelepah nyiur
di pantai itu
bernyanyi tentang sepi
dan
di tiang-tiang perhentian
bertengger letih
burung-burung galau
berhitung bulu-bulu
dengan
usia dan sisa tenaga
seolah berkisah
tentang
sederetan awan
di kejayaan silam
usah
berdebar untuk esok
dengan
hati sendiri
kapal-kapal dari seberang
akan datang dengan berita lain
tentang
fajar hari
langit biru
awan-awan putih
atau
ombak
laut
dan
keluasan
yang
senantiasa terbuka
untuk
segala
di sana
sebuah sampan
dengan
layar terkembang
tantang rintang dan juang
siap laju
ke
pulau baru
dengan
cahaya yang sama
karna
selama detak masih ada
dan
nafas hidup tersedia
tak ada akhir
tak ada batas
buat
kreativitas
dan
pengabdian kehidupan




KALIMAT AKTIP DAN PASIP

sejak sekolah dasar dulu
guruku suka memberi contoh
membuat kalimat aktip
ali memukul anjing
dengan pasipnya
anjing dipukul ali
tanpa penjelasan memadai
mengapa anjing mesti dipukuli

lepas dari konotasi negatip
anjing sebagai gambaran jahat di masyarakat
aku dan teman-temanku segera saja
suka memukul anjing tetangga
meski tahu anjing ada harganya
dan sengaja dibeli sebagai penjaga
serta tak pernah mencuri ikan
atau berbuat kesalahan hingga
karnanya pantas mendapat pukulan

kadang-kadang aku berpikir seandainya
pasip dari kalimat tersebut bisa berbunyi
anjing memukul ali
pasti
itu tidak mungkin
dan
lucu
tidak mungkin karna jelas melanggar konvensi
sedang lucunya
anjing kan tak punya tangan untuk memukul?
menggigit memang bisa
kalau digoda
tapi kan bukan kalimat aktip?

(kenyataan sering kita jumpai
anjing dipukul justru
bukan dalam kalimat aktipnya
melainkan dalam kalimat pasipnya)

pada hal jelas
tak mungkin membuat kalimat pasip dari
ali memukul anjing
hanya dengan membalikkannya begitu saja
tanpa menetapkan lebih dulu
pelaku dan sasarannya
paling-paling
yang mungkin bisa terjadi
dan bisa diterima di kalangan para ahli bahasa
sehubungan dengan hal itu
adalah
anjing menggigit ali
tapi
apakah hal itu bukan sebuah tragedi
apa lagi di jaman yang bingung ini?
pasti
itu jangan sampai terjadi
sebab
kasihan ali
ia pasti akan sakit hati
hingga anjing bisa dibunuh hingga mati

tapi sebaiknya memang tak usahlah
membuat kalimat seperti itu bunyinya
biar saja pasipnya tetap berbunyi
seperti sediakala
jangan buat jendela baru
dari sebuah pintu yang telah dipaku
jangan buat kesalahan-kesalahan
kian berkian
jangan sentuh kerawanan-kerawanan
memalukan
jangan ungkap kerawanan-kerawanan
menyakitkan
jangan
itu masalah rawan
itu belati tajam
di hati rawan

ya Tuhan
bukankah dulu
Kauberi kami tulang rawan
agar persendian bisa enak digerakkan?
ampunkan kami
yang mudah rawan
bantulah kami
menuju kedewasaan

--------



TENTANG SEJARAH ATAU RUMAH

jika sejarah adalah
sejarah perjuanganmu
untukmu
kusediakan sebidang tanah
dan
dengan suka rela
kudirikan di sana
dua batang tiang rumah kita

jika sejarah adalah
sejarah keinginanmu
untukmu
kusediakan sebidang dada
dan
dengan suka rela
kudirikan di sana
dua batang tiang rumah kita

jika sejarah adalah
sejarah perjuangan keinginanmu
untukmu cukuplah sudah
sebidang tanah
sebidang dada
dan
empat batang tiang

namun
rumah kita kosong
tanpa alas atap dan dinding
hingga baik kamu maupun aku
tak bisa tinggal di dalamnya

lain kali
marilah kita buat rumah yang lengkap
hingga kita dapat tinggal bersama
dan
biarkan orang lain membuat sejarahnya
hingga
anak cucu dapat mewarisinya dengan bangga

Oooooo00ooooo0



TENTANG KAMU DAN AKU

kita jauh
dan jenis kelamin kita pun beda
bahkan dari berbagai segi
kita tidak sama
dan tak akan pernah sama


kamu jenis tertentu dari
cara penggolongan tertentu
kamu obyek tertentu dari
subyek tertentu
dan
engkau adalah engkau
menurut mereka

aku juga mengenalmu
bukan
bukan mengenalmu
tapi sekadar tahu tentang kamu
bukan karna sebelumnya kita
pernah bertemu
bersahabat
dan saling mengenal
tidak
aku tak pernah tahu tentang kamu
sebagaimana kamu oleh dirimu
jadi maafkan
jika nanti
terbukti aku keliru mengenai kamu

walau aku sangat bisa keliru
dalam banyak hal termasuk
mengenai satu hal tentang kamu
namun dalam hal ini aku tak bermaksud
menambah daftar kekeliruan tentang kamu
seperti yang selama ini kau tahu sendiri
bagaikan perlombaan
begitu membudaya
bahkan begitu religiusnya apa saja
hingga seolah-olah
Tuhan dan agama adalah alat resmi
untuk membedabedakan apa saja

walau begitu
meski kita memang beda dalam segala
dan tak akan pernah sama dalam apa saja
aku minta kepadamu
kita bisa sama
sebagai manusia
itu saja
-----------

aku mau

aku mau
bukan apa yang kamu mau
tentang Dia
tapi
apa yang Dia mau
tentang kamu

aku mau
bukan apa yang kamu katakan
tentang Dia
tapi
apa yang Dia katakan
tentang kamu

aku mau
dengan sejujurnya kamu berkata
tentang Dia
bukan sebagai Dia yang kamu mau
atau kamu katakan
supaya aku tidak serta merta
menduga bahwa
kamu seorang pendusta

karna
dalam segenap kebebalan dan kebodohanku
aku mau
siapa pun kamu
dari mana pun asalmu
hitam kuning coklat atau putih kulitmu
menyembah dan menaatiNya
menghayati dan mengajarkannya
bukan seperti apa yang kamu mau
tapi seperti apa
yang Dia mau
kita lakukan dengan ketulusan
karna
betapa luas dan dalamnya Dia
betapa agung dan mulianya Dia
siapa dapat merangkumNya
siapa dapat menyentuhNya
siapa dapat mengenalNya
apa arti kehadiranmu di hadapanNya
siapa kamu
sebegitu berartinyakah kamu
hingga Dia memerlukanmu
hai kamu debu
kembalilah ke asalmu
hayatilah keberadaanmu
dan jangan lagi bermimpi
membuali insan milikNya yang berakal budi
karna Dia memang bukan kamu
bukan hasil terbaik gagasanmu
Dia adalah Dia
Pemilik segala kuasa
tak pernah dapat kau raba dan kau duga
Dia adalah Dia
Pemilik segala



AIUEO

terlalu baju si pongah bermain
dadu merah darah si marah di kepala
batu si dungu bak lenting pertama
hujan berlagu
di kelebatan hutan memburu
lidah kelu si bisu beramai-ramai
si murai bersiul punai
membantai si lunglai mengajar kelakar
si pendekar mengaum gigi besi si benci
berpijar di mulut buaya si singa
mencium bau sorga si dusta mengekor angin
kemarin lupa bersikat gigi pula lupa
membaca nama dan tanggal lahir sendiri
saat hari sudah pergi
di kamar mandi si suci tertinggal
sepenggal kenang si belang
bercabang kata dengan bahasa mata
si buta mengintip wajah dewa
dari lobang sempit nafas
si malas bersibuk memanen
gabah si kalah
wah wah wah
terengah-engah tuh si payah
membaca Firman Allah



( 21 April 2009 )



TANAH

kau,tanah
meski sejarahmu begitu megah
tapi kau bukan siapa-siapa
sampai kembali tak tahu
ke mana mula asal diammu
dan
kau bukan apa-apa
hingga semua lobang terbuka
pergi entah ke mana
kau pun tak terjaga

kau,tanah
semata tanah
air api udara dan darah
menyifatkan kesementaraan
berhentilah berkilah
berhentilah memfitnah
karna kau hanya tanah
semata tanah

meski oleh kemurahanKU
kau bisa mendengar suaraKU
namun kau tak mengerti kehendakKU
meski oleh belas kasihKU
kau bisa melihat ujut keagunganKU
namun kau tak bisa menangkap pesan-pesanKU
meski oleh kebijaksanaanKU
kau bisa mengerti sebagian kecil sifatKU
namun kau tak mengenal pribadiKU
memang
siapakah kau, wahai tanah yang busuk
hingga kausempitkan keluasanKU
kaudangkalkan kedalamanKU
kaunistakan kekudusanKU

kembalikan surgaKU
kembalikan tahta dan kekuasaanKU
dan jangan fitnah lagi AKU
kau tak berhak apa pun tentang AKU
kau tak tahu menahu tentang AKU
karna
AKU ADALAH AKU
semata
AKU
dan hanya
AKU

(25 April 2009)


SESEORANG DAN BAYANG-BAYANG

seseorang di air bening
bercermin langit dengan bayang-bayang
purnama memanggil suara katak
bersilang pesan dengan lolong anjing kesepian

” Tidakkah kau mengenal siapa aku?”

aku
siapakah aku
kepada yang hitam itu pun tak dapat
diingatnya lagi bagaimana menangis pertama kali
dan kini ia pun lupa menuliskan tanggal bulannya

meski telah disibak-kedukkannya air
dan juga direguknya cahaya seribu bulan
namun yang didapatkannya hanyalah
sebutir pasir yang kemudian lenyap
dalam remasan jemarinya sendiri

seseorang di air bening
bercermin langit dengan bayang-bayang
mungkinkah terselami kedalaman cahaya
yang menembus dinding waktu
meski di kebeningan air sejernih kaca?

bunga rumput akan kering
daun-daun menguning
rambut pun bercerita
tentang apa yang salah kauduga
tentang DIA
tentang surga
tentang neraka
bahkan tentang dunia dan manusia


(25 April 2009)



KELINCI DAN SINGA

bagaimana cinta
aummu terlalu kata
bagaimana tak sakit
pandanganmu terlalu kulit
bagaimana diterima
pikiranmu terlalu warna
bagaimana tidak ngeri
tatapanmu terlalu gigi
bagaimana jalan dengan aman
arahmu terlalu ke kanan
bagaimana tidak jemu
tampilanmu terlalu bulu
bagaimana bisa bercandaria
dengan sesama kita
karna kau singa luar biasa
sedangkan aku
cuma seekor kelinci biasa

(25 April 2009)




PESONA SURAM DI SEBUAH KOLAM

”Ingat, di langit tak ada pelangi”
katamu sembari membangun rumah pasir
di atas segundukan jerami
purnama bulat mengambang tenang
di permukaan kolam menertawa kebodohanku
atau mungkin juga kau
daun-daun bunga-bunga juga sehamparan rumput
menghitam mencoklat menghijau atau membiru
malam tak peduli warna

”Matahari akan berhenti tepat di atas kepala
dan tak ada lagi pagi siang atau malam”
katamu sembari melempar segenggam batu
ke dalam kolam
kulihat malam semakin kelam
di atas gelombang longitudinal
bergoyang bulat purnama
dengan wajah teriris-iris
berlapis pisau permukaan kolam
memecahkan impian rumah pasir
segunung jerami daun-daun dan bunga-bunga
hanya ikan-ikan
yang berani merenangi malam
dengan sekujur tubuhnya




AKU TAK PUNYA KATA

aku tak punya kata
bagiku hanya tersedia indera
tanpa kemampuan mencipta
nama-nama juga benda-benda
telah tersedia
jauh sebelum aku mengungkapkannya
aku melihat satu ketika sebagai bagian
dari sebuah kerumitan dan di lain waktu aku
aku menemukan diriku terlepas begitu bebas
seperti awan lepas di angkasa raya
begitu sendiri namun tak terperangkap
dalam kesunyian yang pilu
atau keriuhan yang hangat
aku menerima
aku menyedia
aku merela sebagian kepemilikan
menjadi bagian lain yang bukan aku
tetapi kami
aku berada dalam kesemestaan
pada air, udara, terik surya
gerak tetap bumi, pergantian musim
dan ketersendatan peredaran
nafas mengalir pada gerak lamban
tengah malam
pada riuh denyut jantung keseharian
pada kicau burung, hangat mentari
begitu saja huruf-huruf hadir mengalir
meliputi dan menafasi segala
di mataku di kepalaku di kulitku
aku menjadi alat kehadirannya
kata demi kata tersusun sejak awalnya
begitu rapi
membentuk pengertiannya sendiri
menafaskan kehidupannya sendiri
mungkin dia bunga
yang tumbuh di atas kerak batu
mungkin dia nada biru
yang lembut membelai kalbu
atau irama yang menyegarkan jiwa
mungkin duri yang tajam atau hantaman godam
yang melumatkan keangkuhan
mungkin kehangatan cinta
atau jenis asmara lain
yang menggugah kesadaran
huruf-huruf adalah soal kehadiran
kata-kata adalah soal memahami kenyataan
dan semua itu tak ada padaku
hingga dengan seadanya aku berkata
aku tak menciptakannya
aku hanya menghadirkannya
dalam keterbatasan menangkap dan menghayati
sebagian dari kerumitan yang mungkin terlupakan
dan yang lain akan menambahkan
demi kesempurnaan yang terbuka
puisi adalah hasil nyata dari sebuah pergumulan
dari sebagian kerumitan
satu sisi adalah penyair
dan lainnya adalah kata-kata
puisi tak pernah bicara pada siapa-siapa
hingga kita menolong kehadirannya
atau menjadi bagian keberadaannya

(25 April 2009)

kumpulan puisi

SOMEONE IN A BIG BUS STATION


SEE SOMEONE WHO IS LOOKING FOR
THE CARRIAGE HE WANTS
BROKERS OF A BIG BUS STATION
WHO ARE USUALLY IMPOLITE AND INSISTENCIUS
FOR SUPPOSE THE MAN IS IN CONFUSING
THEN CATCH HIM SOON TOGETHER
LIKE A HUNGER LION GETS ITS DELICIOUS FOOD
“JAKARTA?” “SURABAYA?” “JOGYA?” “SOLO?”
“NOT HERE, THERE” “NOT THAT, THIS”
“FOLLOW ME, DON’T FOLLOW HIM”
“LETS GO WITH ME” “YOU ARE MINE”
THEY SAY LIKE THE CHEEPING BIRD
WITH PULL THE MAN SOMEWHERE THEY LIKE
AND URGE HIM TO FOLLOW THEM
“STOP, AND HEAR ME!
I’M LOOKING FOR A BUS
THAT WILL BRING ME TO HEAVEN.
CAN YOU TELL ME, SIRS?”
SAYS THE MAN CLEARLY
MAKE THEM SURPRISED AND FINALLY
WENT TO LEAVE THE MAN ALONE


ONE SOMETHING SILENT FLOWER IN THE HEART


IF MY CHOICE
I’M VERY HAPPY
LIVE IN THE GARDEN
WHERE IS TO WAKE AND TO PROTECT
UNDERSTAND AND LOVING BEAUTY IS REALLY
BECAUSE
TO CREATE LIKE THAT
WHAT CAN I DO
EXCEPT TO SURRENDER
ALTHOUGH PEOPLE
CAN MAKE HISTORIES
WITH THOUSAND WILL POWER AND SPIRIT
NOTHING TO CREATE
CAN PREVENT
THE DESIGN OF GOD


INDONESIAN ALPHABET

FIVE OF THE TWENTY SIX LETTERS
OF MY INDONESIAN ALPHABET ARE LIVE
BUT THE REST OTHERS ARE DIE
I DON’T KNOW WHY
THAT IS THE REASON WHY
I’VE EVER ASKED TO WHOEVER I MET
THERE WERE TWO REACTIONS OF THEM;
ONE WAS INDIFFERENT
AND THE OTHER ONE WAS AFFECTED
THE INDIFFERENT PERSON SAID,
“I DON’T KNOW!”
BUT THE AFFECTED SAID,
“WE CAN’T DO ANYTHING ABOUT IT!”
THAN I WAS DISAPPOINTED
IF MORE THAN 200 MILLIONS OF INDONESIAN
PEOPLE ARE DIE
MUST IT STILL “I DON’T KNOW”
OR “WE CAN’T DO ANYTHING ABOUT IT”?
THEREFORE I GET AWAY TO THE WATER
SEA, STONES, SANDS, SUN MOON AND STARS
BUT THEY DIDN’T SAY ANYTHING
THEY WERE QUIET,
REALLY QUIET
AND SILENT
AND I WAS VERY VERY DISAPPOINTED
THEN I GIVE THEM ALL
TO MY GOD ALMIGHTY
WHILE GO ON TO ATTEND FOR
MY LIVE LETTERS THOSE ARE MINORITY
AMONG THE REST OTHERS DIE
THOSE ARE MAJORITY
ON THE NEXT NIGHT
I DREAM DEMOCRATIC
AND HUMAN RIGHT

CRYING IN THE MIDNIGHT

THERE WAS CRYING IN THE MIDNIGHT
WITH A SUFFERING PRAYER OF THE BROKEN HEART
CRIED OUT OF THE SILENCE TO INTERRUPT
THE NIGHT SOUNDS OF THE INSECT ELEGY
THERE WAS CRYING IN THE MIDNIGHT
FLIED UP ON THE SKY
STABBED THE HEAVEN WALL
TO REQUEST THE LORD COMPASSION
THERE WAS CRYING IN THE MIDNIGHT
OF THE MOTHER EARTH SUFFERING
ABOUT THE LOVING SOUNDS AND DAUGHTERS
WHO SLAYED SINLESS
BY THE HUMANITY ENEMIES



POEM IN ALONG DRY SEASON


DRY GRASS
BROWN LEAFS
RUSTLING SOUNDS
OF BAMBOOS SHRUBBERY
INTERRUPT THE SONG OF DAILY
DUSTY OF AIR ON THE SKY
POISON IN THE HEART
STRONGLESS AND LANGUID
OF ANIMAL CRYING
DROUGHT OF THE TREES LEAFLESS
CAN’T PREVENT THE WIND STORMING
OF THE DRY SEASON
THE LIFE EXPRESSIONS
MADE BROWN THE PANORAMA
WRAPPED THE LOOK DESTRUCTED THE HOPE
THE BRIGHT OF THE SUNSHINE
CAN’T WIPE THE DARKNESS OF SOUL
SUFFER OF THE BARREN SOUL
PRESSED DOWN BY THE HEART CRYING
AND THE BITTERNESS OF THE NIGHT TOO
DAYS RUN TOTTERY FOR THE THREAT
OF THE THOUSAND DISASTERS
WHICH ARE GOING TO HAPPEN
THE LOST MORNING
THE BROKEN AFTERNOON
RINGING OF THE CLOCKS
ACCOUNT THE SILENT
OF THE WHOLE NIGHT
IN THIS ALONG DRY SEASON


AFTER DESTRUCTION THE JUNGLE


FOR THE DESTRUCTION OF THEIR DWELLING IN THIS WORLD
AND ALSO ALL OF THEIR TREASURES ARE ROBBED
BY THE PRETEXT TO DEVELOP ECONOMY PEOPLES
AND THE RISING OF A NEW ERA TOO
WHICH IS CLEANING SO MUCH FROM THE CCN
SO THEN…
THE WILD ANIMALS WHICH ARE DESPERATE AND RANDOM
GO IN DROVES TO ATTACK
THE HEART AND THOUGHT OF MAN
FOR BUILD UP THEIR JUNGLE THERE
AND MAKE NEW PALACE THEM AGAIN
COMPLETE WITH ALL OF THEIR JUNGLE CUSTOMS
NOW
IN THE HOPE
THEY PRAYER AND ASK TO THE LORD
FOR BLESSES THEM
(OH, MAY BE SUCCESSFUL, MAY NOT BE?)



A STREET-BOY’S POEM

I’M A STREET BOY
MY NAME IS LOVE
WHICH IS THROWN FROM THE EMBRACE
THE OLD CLOTHE ON MY BODY
ALWAYS THE REMEMBERS ME
TO MOTHERS EMBRACING THE HARM
AND THE HOLLOW BRIDGE
WHERE I TOOK SALTER
FROM THE SUN BURNING HOT
AND COLD AIR OF THE NIGHT
CONSULS ME EVERY TIME
FROM THE BED FATE AND SOLITARY
WITH THE BROKEN HEART
I DRAG MY FEET AWAY
INDEED ONLY FOR A HUNGER
AS THEN ME KNOW
THE LITTLE YOU THREW TO ME
AND I TO BE ADDICTING
I GIVE YOU MY UPWARDS PALM
AND YOU CALLED ME A STREET BOY
A LIFE BEGGAR
MY REQUEST OF YOUR PITY
BUT YOU SUPPOSE ME
AS A ROBBER
THEN YOU ARE AFRAID
YOU CATCH ME
AND THROW MY BODY INTO THE DITCH
AT THAT PLACE
I DON’T KNOW
WHO IS MY REAL NAME



MOTHEREARTH’S POEM

I’M WIDE LAND
I’M UNDERLAYER OF OCEAN
I’M GATE
I’M HARBOUR OF FOREIGN SHIPS
I’M AIR
I’M THE FRESH BREASTING
WHICH MAKES LENGTHEN THE AGE
I’M WATER
WHICH IS NEVER DRY
I’M PLANTS
I’M SILK CARPET
I’M FLOWER WITH ITS VARIOUS
I’M THE ENORMOUS MOUNTAINS
I’M THE STARS LIGHTENING ON THE SKY
I’M THE WHITE CLOUD OF SOUL LOVING
I’M THE SONG OF THE PHILOSOPHERS
I’M RAINBOW
I’M LONG OF THE LONG
I’M GOODS
I’M TREASURES ALL OF NEEDED
I’M POLE
I’M GENERATION
I’M WOMB
I’M BLOOD
I’M YOUR MOTHER MILK
INDONESIA
I’M A MOTHER
MY CHILDREN
I ASK YOU WHY
WHY DO YOU LEAVE YOUR DEDICATION?
LISTEN!
NOW
I’M THE HOME
WHICH YOU HAVE LEFT
THE YARD
WHICH ISN’T PRESERVING
THE LOVE
WHICH YOU HAVE CURSED
THE HEART
WHICH YOU HAVE ANNOYED
THE SOUL
WHICH YOU HAVE VIOLATED
THE LIFE
WHICH YOU HAVE OMITTED
NOW
I BECOME A NIGHT
THAT WILL BE SO MUCH SILENT
IN THE TIRE OUT WAITING
OF YOUR COMING BACK



A HUNGER FACE OF LIFE

LONELY ON A VAGUELY PATHWAY
AT A DARK AND SILENT NIGHT
WHEN WAS DECEIVING BY
THE TRACKS OF THE LIFE TRICKS EXPRESSION
SUDDENLY CAME SOMEONE FROM THE DARK
CAUGHT ME ON MY WAY
WITH A POINTED KNIFE
TOWARD MY HEART
“WHERE ARE YOUR HEART, LEVER AND LUNGS?
GIVE ALL TO ME, OR YOU WILL DIE WITHOUT THEM.
QUICK!”
HE THREATENED ME AND PRESSURE MY BODY
AT A BIG HIGH WALL
THEN
BEFORE I HAD A CHANCE TO CHOOSE
SUDDENLY HE HAS STUBBED ME VERY VERY DEEP
BEGAN TO OPEN AND BRING OUT
ALL OF MY BREAST CONTENTS
THEN ATE THEM ALL GREEDILY
UNTIL FINISH WITHOUT REMAINDER
“OH, MY GOD!” I SAY IN MY HEART WITH PITY
THEN I SAY TO HIM, “IF YOU NEED MORE,
I’LL GIVE YOU OTHERS!”
HE LOOKS UP TO ME
BY THE FLASH LIGHTENING
I CAN SEE HIS FACE
SURELY AS A HUNGER AND THIRST
OF THE NATURAL LIFE EXPRESSION
IN A LONG DRY SEASON
“NO! YOU’RE THE LAST THAT PROVE
MOST OF PEOPLE HAVE ONLY HEART,
LIVER AND LUNGS IN THEIR BREAST
BUT HAVE NO LOVE.
SO THEN, MANY PEOPLES DIE
WITH HEART, LIVER AND LUNGS WITHOUT LOVE”
SUDDENLY HE SAID LOUDLY AND CLEARLY
AND I WAS WONDERING.
WITH FALLING RAIN
HE DISAPPEARED IN THE DARKNESS
AND BACK I WAS ALONE
IN THAT WAY
DOING THE LIFE
WHILE WRITING POEM



A SMALL BIRD WITH ITS SWEET DREAM

A SMALL BIRD
WITH ITS SWEET DREAM
GET AWAY FROM THE HABITAT
AND COME NEAR TO THE EAGLE NEST
WHICH IS BUSY
IN FEEDING ITS LITTLE'S
THOSE ARE TOO TALKY AND GREEDY
“HI, MY GOOD FRIEND, EAGLE.
WHAT CAN I HELP YOU?” SAID
THE SMALL BIRD KINDLY
“THERE IS. YOUR HEAD IS
DELICIOUS FOOD FOR THEM”
SAY THE EAGLE IN A HURRY



RABBIT FOUND A MAP

ONE DAY THERE WAS A RABBIT
WHICH HAS JUST LOOSED FROM
THE LION HUNTING
SURPRISE AND AFRAID
BECAUSE ON THAT DAY
HE FOUND A ROLL OF CLOTHE
WHICH AFTER OPENED
ACTUALLY WAS A MAN DRAWING MAP
LYING DOWN WITHOUT SENSE
AT THE DARK AND SILENT SHRUBBERY
“OH, MY GOD!” SAID THE RABBIT FEARLY
“IF TODAY THE MAN LIFE DRAWING MAP
FOUND LYING DOWN WITHOUT SENSE AT THE
DARK AND SILENT SHRUBBERY I LIVED...
WHAT ISN’T IT MEANING THAT YESTERDAY OR
WHEN, THERE WAS SCIENTISTS HAVE EVER
LOST THEIR MAP?”
THEN
HE RAN AWAY AS FAST AS HE COULD
AND RETURNED TO HIS FAMILY IN PEACE


THE TRENDY CLOTHES

IN ORDER TO BECOME TRENDY
IN A BIG FUTURE PARTY WHICH HIS NAME
IS WRITTEN AS A FORMAL PERSON INVITATION
GOES SOMEONE TO THE CLOTHING SHOP
AND SEEKS THE CLOTHES HE LIKES
“WHICH CLOTHES DO YOU WANT, SIR?
THIS OR THAT? COLOR? DON’T WORRY!
QUITE COMPLETE HERE
YOU CAN CHOOSE AS YOU WANT
OR, PUT IT ON.
THIS WHICH IS TRENDY NOW?” SAYS THE SERVER
WHISPERINGLY AND GIVES THE MAN
ONE OF THE CLOTHES SHE MEANS
“THANK YOU VERY MUCH!
BUT WHATEVER IS TRENDY NOW,
IT WILL PASS AND TO BE WORN.
NOW, I WANT THE FUTURE CLOTHES TRENDY.
IS THERE?” ASK THE MAN TO THE POINT
BUT THERE IS NO ANSWER



A FROG IN THE NIGHT

WHILE THE PREFECT MOON
WAS GIVING AWAY ITS LIGHT
THROUGH OUT THE WORLD,
COMES NEAR A FROG
WHICH IS DRIPPING WET OF TEARS
ASKED FOR ABOUT ITS SMALL
AND THOSE WERE DISAPPEARED THE CABIN SUDDENLY
“HELP ME, MY MOON PLEASE!
DO YOU KNOW THEM WHERE?”
FOR HEARS THE ASKING
THE MOON FEELS IN PITY
AND ITS LIGHT BEFORE THAT WAS BRIGHT
NOW CHANGE BECOME VAGUELY
“WIPE YOUR TEARS, MY FROG!
PUT ON YOUR SILENT PATHWAY
AND YOU WILL LAUGH MORE THEN!”
SAYS THE MOON
THEN SPREAD ITS LIGHT
THROUGH OUT THE WORLD AGAIN
NIGHT IS NOT ALWAYS DARK


RICE FIELD’S POEM

I’M RICE FIELD
HUMUS AND THE MATTERS OF FERTILITY
THOSE ARE FAR
FROM THE BALANCING AND CONTINUATION
SUFFER OF MY SOUL EVERY TIME
FOR THE FLAME OF ADDICTION
WHICH IS BURNED BY THE FATE
OF DRUNKENNESS AND DEPENDENCE
NOW I DON’T UNDERSTAND
THE LOWS SOUND OF BUFFALO
AND OF CRYING THE FARMERS
MY SALIVA IN MY GULLET IS TOO BITTER
TO GROWS UP THE LEAFS
AND SEND THE EARS OF RICE
EVEN MOULDLY THE HOPE
THAT HAS COMPULSED EVERYDAY
WITHOUT FUTURE AS THE DEW OF TREASURES
FOR YEARS NAILED MY SEASONS
ON THE HOT FATE AND SILENCE THE GRASS
WHILE
YOU ONLY CAN REGRET
WHAT HAS HAPPENED TODAY
WITH YOUR EYES STILL CLOSED
STOP!
OR YOUR TIME IS GOING TO COME
AND YOU’LL HARVEST THE LOUSES AND FLIES
IF YOU WANT



THE NEGLECTED FIELD

THE FALLING LEAFS OF SPRUCEFIR
MADE THE NEGLECTED FIELD
BURNING BEHIND YOU
FULL OF THIRTY AND HUNGRY EXPRESSIONS
SHIVER OF DRY GRASS ON THE STEPPE
ROLLED ITS HEART
TO ENDURE THE BITTERS

NOT THE HOT DUSTY
WAS DREAMING FOR
BUT THE FRESH OF THE LIFE WATER
TO LEAD
IN LOVE AND PEACE
IN THE NICHES OF HEART
IN THE HOLLOWS OF SOUL

NOT KNOW
OR NOT WANT TO KNOW
THAT THE CRYING OF SILENT
ON THE STONES HILL
MADE POEM WITH TEARS
AND THE BROKEN LONGING
OF MEDICINE



THE SILENT POEM OF THE RIVER WATER RUSTLING

THIS IS THE LAMENT SOUNDS
OF THE RIVER WATER RUSTLING
IN THE CORNER OF THE VILLAGE
NOT GHOST
OR THE SATAN'S SONG OF THE NIGHT
WHICH IS USUALLY BUZZED
IN THE FAIRIES HEART
THE COMPASS HAS TURNED AROUND
TO THE LEFT
AT THE WIDE PLACE
OF THE WORLDLY BRIGHTENING
LIKEWISE WITH THE RELIGION CONFESSORS BEHAVE
THEY WERE LONG FROM THE HEAVEN WAY
WHO KNOWS
WHERE WILL THEY WANT TO BRING OUT THE PEOPLES
THEN
WHAT WILL HAPPEN ON THIS FULL OF SIN WORLD?
WHEN THEY THREW THEMSELVES DOWN
INTO THE DARK MIRE
MY HEART WAS STUBBED
BUT I DON’T KNOW EITHER
WHY THE DRUM IN MY HEART
IS SILENT


ON THE NOISE SEA

ON THE NOISE SEA
NO BODY CAN'T EVADE
CARRIED AWAY AND SINK
OR PERSIST AND THROWN OUT
SAME BITTER AS BURIED
IN SILENT WITHOUT CHOICE
BUT ABOVE ALL OF THOSE
ONLY THE FAITH CAN BE SURVIVE
WITH ITS GLISTENING FUTURE


THE HIDDEN PEOPLE

people changed their way
and made pointed of themselves
they buried the only one name
in the silence sky
for the flesh
they sold their owing life

in the burial ceremony
faces were white of powder
so was of the clothes
white and clean
as white and clean
as the heaven inhabitants

with this manners to :
they built their palace
as if God was sleep
and would not drag them
in to the true court

the poem was written
in the blinding of the full blind
only by of your light, my Lord
i could see their shadows hidden
met me in your way
like a bat overcame the sun



STICK

suddenly you came
when i was taking care
for my wife and children
you carried a basket of dreams
in the strange breath of perfume' smell
and you asked me like a whisper of wind
"where do i must spread flowers
for the grave of a late poetist"?

i showed you a stick
and that the corner was a place
of his salvation choice
but you said, "oh no!
it isn't the right grave for him!"

"if it was what you wanted,
spread your flowers away
may to the sky
perhaps the wind
will bring its to his address",i said
but you didn't agree,
"no! not anywhere, here it is
in the loves land
that called heart of hearts"

i was affected
i looked at to the stick
where it leaned in stiffening

"will you be growing?"
i said in my heart
for years cornered in my silent room
only of the whisper of wind
passing in a moment
then disappeared soon
by my children crying



THE GRACE EVIDENCE

land cried
thrown far from heaven
from dream of sweat and humus
made the white jasmine neglected
lived in loveless life

land full of blood
suffering hardship in the rotten injures
it' smell steamed up to the sky
created the black fog
in the darkness way

here
in my silent home stay, my Lord
i testified the strange days
without roses without jasmines
as black was this land dirtied by
the poison of flesh and worldly life